Mengkaji Lebih Jauh Seputar Ekonomi Moneter

Nama: Dandi Bayu Hardika

Nim   : B1A119013




Apasih Tujuan dan Pentingnya Belajar Ekonomi Moneter?

Tujuan mempelajari ekonomi moneter adalah untuk mengetahui mekanisme penciptaan uang, tingkat bunga, pasar uang, sistem dan kebijakan moneter, neraca pembayaran internasional serta menganalisis beberapa fenomena moneter dalam hubungannya dengan pengaruh kebijakan moneter terhadap kegiatan ekonomi.

Ekonomi moneter menjadi suatu cabang ilmu ekonomi yang sangat penting untuk dikaji oleh semua orang, khususnya mahasiswa ekonomi itu sendiri. Sebab uang dari dulu hingga sekarang memegang peranan yang penting dalam kenyataan hidup manusia.

1.Pengertian Ekonomi Moneter

Secara umum Ekonomi Moneter adalah bagian dari ilmu ekonomi yang secara khusus mempelajari sifat, fungsi, dan peranan serta pengaruh  uang terhadap aktivitas perekonomian sebuah negara.

Adapun pengertian ekonomi moneter menurut beberapa ahli adalah sebagai berikut :

Boediono Moneter : Yang dimaksud dengan kebijakan moneter adalah tindakan pemerintah melalui Bank Sentral untuk mempengaruhi dalam situasi makro yang dilaksanakan yaitu dengan menyeimbangkan jumlah uang beredar dengan penawaran barang sehingga inflasi dapat dikendalikan, tercapainya kesempatan kerja penuh dan kelancaran suplai atau distribusi barang.

M. Natsir : Yang dimaksud dengan monetary policy adalah segala tindakan atau upaya bank sentral untuk mempengaruhi perkembangan variabel moneter (uang beredar, nilai tukar, suku bunga, dan suku bunga kredit) untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Perry Warjiyo : Kebijakan moneter adalah kebijakan otoritas moneter atau bank sentral dalam bentuk agregat moneter untuk mencapai perkembangan kegiatan ekonomi yang dilakukan dengan memperhatikan siklus aktivitas ekonomi, sifat ekonomi suatu negara dan faktor ekonomi fundamental lainnya.

2.Kebijakan Ekonomi Moneter

Sejatinya dalam ilmu ekonomi, kebijakan moneter merupakan sebuah kebijakan yang dikeluarkan pemerintah untuk mengatur kestabilan keuangan suatu Negara.

Dalam mengelola perekonomian suatu Negara, pemerintah melakukan berbagai kebijakan ekonomi untuk mengarahkan perekonomian bangsa. Kebijakan ekonomi merupakan langkah-langkah pengendalian perekonomian secara keseluruhan yang dilakukan oleh pemerintah. Salah satu kebijakan yang dikeluarkan pemerintah adalah kebijakan atau ekonomi moneter. 

Keuangan yang sering kali berubah-ubah dengan adanya berbagai faktor yang mempengaruhi membuat sebuah Negara mengatur hal tersebut dengan suatu kebijakan. Stabilitas finansial dibutuhkan setiap negara untuk menjaga harga, inflasi serta output dalam keadaan stabil.

Kebijakan moneter juga merupakan usaha yang dilakukan untuk memperoleh peningkatan pertumbuhan ekonomi dan menjaga stabilitas harga pasar. Agar hal ini bisa dicapai, Bank Sentral yang juga dikenal sebagai otoritas moneter mengeluarkan kebijakan untuk mengatur keuangan Negara agar lebih terkendali. Seperti ketersediaan uang, distribusi, kesempatan kerja serta laju inflasi yang terkendali.

3.Jenis-Jenis Kebijakan Ekonomi Moneter

 -Kebijakan Moneter Ekspansif

Kebijakan Moneter Ekspansif sering disebut kebijakan uang Longgar (easy money policy) ialah kebijakan yang mengatur jumlah uang yang dipasok dalam perekonomian. Caranya dengan menurunkan suku bunga, membeli sekuritas pemerintah oleh bank sentral, dan menurunkan persyaratan cadangan untuk bank. Kebijakan ekspansif juga akan menurunkan tingkat pengangguran dan merangsang aktivitas bisnis atau kegiatan belanja konsumen.

Secara keseluruhan di seluruh negara, tujuan kebijakan moneter ekspansif adalah meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan risiko inflasi akan semakin tinggi. Kebijakan moneter ekspansif (monetary expansive policy) utamanya melakukan penambahan uang yang beredar dalam masyarakat agar roda perekonomian semakin berjalan cepat. Kebijakan ini mampu meningkatkan daya beli (permintaan) masyarakat dan mengurangi jumlah pengangguran pada saat perekonomian mengalami resesi atau depresi. Kebijakan moneter ekspansif juga mempengaruhi tingkat pengangguran di suatu negara.

Contohnya, kebijakan ekspansif biasa diterapkan untuk mengurangi angka pengangguran karena ketersediaan uang dalam jumlah banyak akan merangsang kegiatan bisnis sehingga pasar tenaga kerja semakin besar. Dengan otoritas fiskal, bank sentral mengontrol nilai tukar mata uang dalam negeri (Rupiah) terhadap mata uang asing. Contoh konkretnya, yaitu bank Indonesia menambah jumlah uang beredar dengan mengeluarkan lebih banyak uang cetak. Mata uang Rupiah menjadi lebih murah daripada mata uang negara lain.

 -Kebijakan Moneter Kontraktif

Kebijakan Moneter Kontraktif adalah suatu kebijakan dalam rangka mengurangi jumlah uang yang beredar. Kebijakan ini dilakukan pada saat perekonomian mengalami inflasi. Disebut juga dengan kebijakan uang ketat (tight money policy). Kebijakan moneter kontraktif (monetary contractive policy) yang disebut kebijakan uang ketat (tight money policy) ialah kebijakan mengurangi jumlah uang yang beredar.

Tujuan utama dari kebijakan ini adalah menurunkan tingkat inflasi. Tujuan kebijakan moneter kontraktif adalah mengurangi jumlah uang beredar dalam perekonomian. Tujuan tersebut dapat dicapai dengan meningkatkan suku bunga, menjual obligasi pemerintah, dan menaikkan persyaratan cadangan untuk bank.

Contoh Kebijakan Moneter di Indonesia Beberapa contoh monetary policy yang telah diterapkan di Indonesia, adalah sebagai berikut: Bank Indonesia (BI ) melakukan lelang sertifikatnya, atau bisa juga melalui pembelian surat berharga di pasar modal. UBI dapat menurunkan suku bunga jika kondisi ekonomi sesuai dengan ekspektasi. Sebaliknya, BI bisa menaikkan suku bunga bila ingin membatasi aktivitas ekonomi sehingga aliran uang berkurang.Ketika perekonomian mengalami resesi maka peredaran uang akan meningkat sehingga aktivitas perekonomian meningkat. Contohnya adalah membeli sekuritas (surat-surat berharga) Saat terjadi inflasi, BI akan mengurangi aliran uang ke masyarakat dengan menjual surat berharga untuk mengurangi aktivitas ekonomi yang berlebihan.

4.Tujuan Kebijakan Moneter 

1. Stabilitas Ekonomi. Stabilitas ekonomi adalah suatu keadaan di mana pertumbuhan ekonomi berlangsung secara terkendali dan berkelanjutan. Artinya, pertumbuhan arus barang/jasa dan arus uang berjalan seimbang.

2. Kesempatan Kerja. Kesempatan kerja akan meningkat bila produksi meningkat. Peningkatan produksi biasanya diikuti dengan perbaikan nasib para karyawan ditinjau dari segi upah maupun keselamatan kerja. Perbaikan upah dan keselamatan kerja akan meningkatkan taraf hidup karyawan dan pada akhirnya kemakmuran dapat tercapai.

3. Kestabilan Harga. Kestabilan harga ditandai dengan stabilitas harga barang dari waktu ke waktu. Harga yang stabil menyebabkan masyarakat percaya bahwa membeli barang pada tingkat harga sekarang sama dengan tingkat harga yang akan datang, atau daya beli uang dari waktu ke waktu adalah sama.

4. Neraca Pembayaran Internasional. Neraca pembayaran dapat dikatakan dalam keadaan seimbang apabila jumlah nilai barang yang diekspor sama dengan nilai barang yang diimpor. Untuk mendapatkan neraca pembayaran yang seimbang, pemerintah sering menjalankan kebijakan moneter. Contohnya adalah dengan cara melakukan devaluasi.

5. Menjaga Stabilitas dan Pertumbuhan Ekonomi. Menjaga stabilitas harga dari banyaknya jumlah uang yang beredar, Meningkatkan kesempatan kerja, Memperbaiki posisi neraca perdagangan dan neraca pembayaran, jika negara mendevaluasi mata uang rupiah ke mata uang asing.



 PENENTUAN NILAI TUKAR

A. Nilai Tukar 

Pengertian Nilai Tukar Rupiah Menurut Fabozzi dan Franco (1996:724) an exchange rate is defined as theamount of one currency that can be exchange per unit of another currency, or the price of one currency in items of another currency. Sedangkan menurut Adiningsih, dkk (1998:155), nilai tukar rupiah adalah harga rupiah terhadap mata uang negara lain. Jadi, nilai tukar rupiah merupakan nilai dari satu mata rupiah yang ditranslasikan ke dalam mata uang negara lain. Misalnya nilai tukar rupiah terhadap Dolar AS, nilai tukar rupiah terhadap Yen, dan lain sebagainya. Kurs inilah sebagai salah satu indikator yang mempengaruhi aktivitas di pasar saham maupun pasar uang karena investor cenderung akan berhati-hati untuk melakukan investasi. Menurunnya kurs Rupiah terhadap mata uang asing khususnya Dolar AS memiliki pengaruh negatif terhadap ekonomi dan pasar modal (Sitinjak dan Kurniasari, 2003). 

B. Penentuan Nilai Tukar Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pergerakan nilai tukar, yaitu (Madura, 1993): 

1. Faktor Fundamental

Faktor fundamental berkaitan dengan indikator-indikator ekonomi seperti inflasi, suku bunga, perbedaan relatif pendapatan antar-negara, ekspektasi pasar dan intervensi Bank Sentral. 

2. Faktor Teknis Faktor teknis berkaitan dengan kondisi penawaran dan permintaan devisa pada saat-saat tertentu. Apabila ada kelebihan permintaan, sementara penawaran tetap, maka harga valas akan naik dan sebaliknya. 

3. Sentimen Pasar Sentimen pasar lebih banyak disebabkan oleh rumor atau berita-berita politik yang bersifat insidentil, yang dapat mendorong harga valas naik atau turun secara tajam dalam jangka pendek. Apabila rumor atau berita-berita sudah berlalu, maka nilai tukar akan kembali normal. 

Sistem Kurs Mata Uang Menurut Kuncoro (2001: 26-31), ada beberapa sistem kurs mata uang yang berlaku di perekonomian internasional, yaitu: 

1. Sistem kurs mengambang (floating exchange rate), sistem kurs ini ditentukan oleh mekanisme pasar dengan atau tanpa upaya stabilisasi oleh otoritas moneter. Di dalam sistem kurs mengambang dikenal dua macam kurs mengambang, yaitu : 

a. Mengambang bebas (murni) dimana kurs mata uang ditentukan sepenuhnya oleh mekanisme pasar tanpa ada campur tangan pemerintah. Sistem ini sering disebut clean floating exchange rate, di dalam sistem ini cadangan devisa tidak diperlukan karena otoritas moneter tidak berupaya untuk menetapkan atau memanipulasi kurs. 

b. Mengambang terkendali (managed or dirty floating exchange rate) dimana otoritas moneter berperan aktif dalam menstabilkan kurs pada tingkat tertentu. Oleh karena itu, cadangan devisa biasanya dibutuhkan karena otoritas moneter perlu membeli atau menjual valas untuk mempengaruhi pergerakan kurs. 

2. Sistem kurs tertambat (peged exchange rate). Dalam sistem ini, suatu Negara mengkaitkan nilai mata uangnya dengan suatu mata uang negara lain atau sekelompok mata uang, yang biasanya merupakan mata uang negara partner dagang yang utama “Menambatkan“ ke suatu mata uang berarti nilai mata uang tersebut bergerak mengikuti mata uang yang menjadi tambatannya. Jadi sebenarnya mata uang yang ditambatkan tidak mengalami fluktuasi tetapi hanya berfluktuasi terhadap mata uang lain mengikuti mata uang yang menjadi tambatannya. 

3. Sistem kurs tertambat merangkak (crawling pegs). Dalam sistem ini, suatu negara melakukan sedikit perubahan dalam nilai mata uangnya secara periodic dengan tujuan untuk bergerak menuju nilai tertentu pada rentang waktu tertentu. Keuntungan utama sistem ini adalah suatu negara dapat mengatur penyesuaian kursnya dalam periode yang lebih lama dibanding sistem kurs tertambat. Oleh karena itu, sistem ini dapat menghindari kejutan-kejutan terhadap perekonomian akibat revaluasi atau devaluasi yang tiba-tiba dan tajam.

4. Sistem sekeranjang mata uang (basket of currencies). Banyak negara terutama negara sedang berkembang menetapkan nilai mata uangnya berdasarkan sekeranjang mata uang. Keuntungan dari sistem ini adalah menawarkan stabilitas mata uang suatu negara karena pergerakan mata uang disebar dalam sekeranjang mata uang. Seleksi mata uang yang dimasukkan dalam “keranjang“ umumnya ditentukan oleh peranannya dalam membiayai perdagangan negara tertentu. Mata uang yang berlainan diberi bobot yang berbeda tergantung peran relatifnya terhadap negara tersebut. Jadi sekeranjang mata 

uang bagi suatu negara dapat terdiri dari beberapa mata uang yang berbeda dengan bobot yang berbeda. 5. Sistem kurs tetap (fixed exchange rate). Dalam sistem ini, suatu Negara mengumumkan suatu kurs tertentu atas nama uangnya dan menjaga kurs ini dengan menyetujui untuk menjual atau membeli valas dalam jumlah tidak terbatas pada kurs tersebut. Kurs biasanya tetap atau diperbolehkan berfluktuasi dalam batas yang sangat sempit. 


C. Penetuan Nilai Tukar

1. Purchasing Power Parity

• Teori PPP menyatakan berlakunya law of one price untuk berbagai produk yang diperdagangkan secara internasional.

• Asumsi:

- Tidak ada hambatan dalam perdagangan internasional

- Tidak ada tindakan arbitrase untuk memperoleh keuntungandari

perdagangan valuta asing.

• Harga barang untuk setiap negara akan sama setelah

memperhitungkan tingkat nilai tukar yang ada, yaitu P = P*+S, (S =nilai tukar nominal, P = tingkat harga barang domestik dan P* =tingkat harga barang luar negeri).

• Apabila metode dan cakupan barang dalam perhitungan inflasi tidakjauh berbeda, maka berdasarkan PPP perubahan nilai tukar akansama dengan perbedaan inflasi antar negara, yaitu ΔS = π - π*, ( πdan π* adalah tingkat inflasi domestik dan luar negeri). 

 • PPP tersebut menjadi dasar bagi pengukuran nilai tukar tertimbangsecara riil yang dikenal dengan Real Effective Exchange Rate (REER).

• REER = σ ωj πj * / π , (ω = porsi perdagangan dengan masing-masing negara mitra dagang).

• Perhitungan REER umumnya dinyatakan dalam suatu indeks tahundasar yang mencerminkan kondisi normal negara yang bersangkutan.

• Indeks REER dapat dijadikan ukuran seberapa jauh perkembangannilai tukar bergerak tidak sesuai dengan kondisi fundamental(misalignment).


2. Teori Penentuan Nilai Tukar (4)

Interest Rate Parity

• Interest Rate Parity (IRP) menekankan konsep flows dalampergerakan arus modal antar negara dalam neraca transaksi modal.

• Dengan adanya pasar aset Internasional, IRP berlaku sebagaiperwujudan law of one price dari suku bunga antarnegara.

• Asumsi:

- pasar valuta asing cukup efisien dalam mentransformasikaninformasi

kedalam pergerakan nilai tukar

- tidak ada hambatan yang berarti dalam bekerjanya persainganpasar

sempurna

- perfect capital mobility

- perfect capital subtitutability

• Dalam kondisi tersebut, tingkat hasil investasi atau suku bungaantarnegara akan sama setelah memperhitungkan nilai tukar.


3. The Imposible Trinity

• Teori ini menunjukan bahwa stabilitas nilai tukar, kebebasan mobilitasluar negeri dan otonomi kebijakan moneter untuk tujuan stabilitas hargadomestik merupakan tiga tujuan yang sulit dicapai sekaligus dalamperekonomian terbuka.

• Hanya ada dua pilihan yang dapat diwujudkan.

• Misalnya, dalam hal negara menghendaki stabilitas nilai tukar dankebebasan aliran modal luar negeri, otonomi kebijakan moneter untuktujuan stabilitas harga domestik sulit dicapai karena besarnya pengaruharus modal luar negeri terhadap perkembangan uang beredar daninflasi.






Sumber:

1.https://www.gramedia.com/literasi/kebijakan-moneter/

2.Kebijakan Moneter Warjiyo, P., Juhro, S., 2016, Kebijakan Bank Sentral, Teori dan Praktik, RajaGrafindo Persada







Komentar

  1. Mantap sekali, ditunggu materi2 bermanfaat selanjutnya

    BalasHapus
  2. Materinya bgus.. Kedepan bahas tentang Dinamika Perubahan Iklim Ekonomi dan Pembangunan Di Indonesia Kak,,

    BalasHapus
  3. Pembahasan yang terinformasi dengan baik. Thanks for sharing dude 😀

    BalasHapus
  4. Kajian yang menarik dan tidak bertele-tele. Adanya beberapa istilah asing sehingga dapat menambah wawasan pembaca ;D

    BalasHapus
  5. Tampilannya bagus, materinya bagus

    BalasHapus

Posting Komentar